Pentingnya Kesinergian antara IQ, EQ dan SQ di dunia Pendidikan
Pendidikan merupakan proses kehidupan dalam mengembangkan diri setiap
individu. Untuk menciptakan pendidikan yang baik, perlu adanya
kesinergian antara kecerdasan IQ, EQ dan SQ.
Kecerdasan IQ (Intelligence Quotient) merupakan kemampuan dalam
memecahkan masalah secara logis dan akademis. Istilah IQ diperkenalkan
oleh Alfred Biner, ahli psikologi dari Perancis. Umumnya orang
beranggapan anak ber-IQ 130 dianggap cerdas di segala bidang. Semakin
tinggi nilai IQ seseorang, semakin tinggi pula kecerdasannya. Namun,
jika anak nilai matematikanya rendah dan memiliki IQ rata-rata, maka
anak tersebut dianggap tidak pintar.
Seiring dengan tantangan dan kehidupan modern yang serba kompleks, para
ahli menemukan kecerdasan lain dalam diri seseorang yaitu kecerdasan
Emotional Quotient (EQ). Pernyataan ini sekaligus menguatkan teori bahwa
IQ bukanlah salah satu penentu keberhasilan seseorang. EQ merupakan
kemampuan mengenali p[erasaan diri sendiri dan orang lain, kemampuan
memotivasi diri sendiri, serta kemampuan mengolah emosi dengan baik.
Daniel Goleman dalam bukunya Emotional Intelligece menyatakan bahwa
kontribusi IQ bagi keberhasilan seseorang hanya sekitar 20 % dan 80%
lainnya ditentukan oleh EQ. Kecerdasan IQ dan EQ akan menghasilkan
individu yang berintelektual dan mampu memecahkan masalah dengan bijak
apabila keduanya bekerja secara bersinergi (Dwi Sunar, 2012)
Berdasarkan data yang dihimpun dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia
(KPAI), angka tawuran pelajar di Indonesia mencapai 102 kasus tahun
2010. Tahun 2011 mencapai 96 kasus. Sementara, tahun 2012 mencapai angka
103 kasus. Pelaku tawuran bervariatif dari pelajar tingkat SD hingga
SMA/SMK (suaramerdeka.com, 2012)
Potret tersebut menunjukkan kurangnya kecerdasan EQ pada pelajar.
Seseorang yang ber-EQ tinggi akan mampu mengontrol emosi dan menciptakan
keseimbangan anatara sirinya sendiri dengan orang lain.
Namun, ternyata terdapat kecerdasan lain selain IQ dan EQ. Danah Zohar
pada tahun 1932 menemukan adanya God Spot dalam otak manusia (spiritual
centre). Pada God Spot inilah terdapat fitrah manusia yang terdalam (Ari
Ginanjar, 2011). Istilah tersebut melahirkan Kecerdasan Spiritual atau
Spiritual Quotient (SQ) yakni kemampuan manusia untuk memaknai hidup. SQ
bukan hanya berhbngan dengan keagamaan namunn nlebih kepada pencerahan
jiwa, mampu mengontrol diri dan melakukan sesuatu dengan bijak.
![]() |
| diambil dari sasrianaoctavinia.wordpress.com |
Jika IQ mengangkat fungsi pemikiran. EQ mengangkat fungsi perasaan, maka
SQ mengangkat fungsi moral. Kesinergian antara EQ dan SQ akan
menghasilkan individu yang berinteletual, bijak dan memiliki akhlak
moral yang beradab.
Seseorang yang memiliki kecerdasan IQ dan EQ tanpa memiliki SQ, mereka
tidak menyadari makna nilai dalam dirinya serta tidak menyadari untuk
apa dirinya diciptakan. Contoh di dunia pendidikan adalah fenomena
budaya menyontek, guru disuap, penyelewengan dana pendidikan, dsb.
Menurut saya, untuk menghasilkan output pendidikan yang baik, penerapan
IQ, EQ dan SQ dapat dikenalkan sejak dini. Misalnya dengan metode Telling Story
tentang tokoh dalam sebuah cerita atau mengenai tokoh wayang di
Indonesia. Tokoh Hitler atau Fir'aun yang merupakan pemimpin cerdas tapi
tidak memiliki kecedasan SQ (tidak percaya kepada Tuhan) akibatnya
menyebabkan kehancuran.
Dalam hal ini tidak hanya pendidik namun juga peran orangtua sangat
diperlukan. Tidak hanya diterapkan untuk siswa melainkan kepada seluruh
komponen pendidikan yang baik, agar menciptakan pendidikan yang baik dan
generasi yang baik. Menuju pendidikan Indonesia yang lebih baik.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar